Lima hari setelah malam itu, Bima Aditya terbangun dengan satu keputusan yang sudah bulat di dalam dadanya.
Ia tidak lagi mengetik dan menghapus. Tidak lagi menatap permukaan kaca gawai di kamar yang gelap, menanti sesuatu yang tak kunjung datang.
Malam-malam setelah pesan itu terkirim dan hanya dibaca tanpa balasan telah mengajarinya satu hal: keberanian yang setengah-setengah tidak lebih baik daripada diam. Dan ia sudah cukup lama diam.
Pukul tujuh lewat seperempat, Bima duduk di meja dapurnya yang sempit. Cahaya pagi masuk miring melalui jendela apartemen, membentuk persegi panjang di atas lantai.
Di tangannya, secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Ia belum menyentuhnya. Di hadapannya, layar laptop menyala dengan draft email yang sudah ia tulis sejak subuh.
Kepada Yth. Bapak Raditya Wibisono, Partner Aksara Ventures.
Bima membaca ulang setiap kalimat, pelan-pelan. Jari-jarinya mengetuk meja – sekali, dua kali, lalu berhenti. Email itu singkat.
Terlalu singkat, mungkin, untuk sebuah keputusan yang akan mengubah arah kariernya. Tapi ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan semuanya.
Tidak semua hal harus diuraikan menjadi paragraf-paragraf panjang agar menjadi benar. Kadang-kadang, kebenaran justru terletak pada apa yang tidak bisa dijelaskan.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol kirim.
Layar laptop berkedip sekali. Email itu melesat entah ke server mana di Jakarta, dan Bima tahu tidak ada tombol undo untuk ini. Hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi bukan karena panik.
Ada sesuatu yang lain di sana – sesuatu yang terasa seperti kelegaan dan ketakutan bercampur menjadi satu, dua emosi yang tidak bisa ia pisahkan lagi.
Ia menutup laptop dan akhirnya menyesap kopinya. Sudah agak dingin.
Kemudian, ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Bima mengeluarakan selembar kertas dari laci meja. Kertas HVS putih, sedikit kusut di sudutnya karena terlalu lama tersimpan.
Ia mengambil pulpen – bukan pulpen biasa, tapi pulpen Parker warisan ayahnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia gunakan. Tinta hitam. Ia menulis dengan tangan.
Bukan mengetik. Bukan di layar. Bukan di aplikasi pesan singkat yang memungkinkan ia menghapus semuanya dalam satu ketukan jari.
Di atas kertas itu, ia menuliskan semuanya.
Tentang tiga tahun yang telah mereka lewati. Tentang malam-malam di warung kopi Mbok Darmi, ketika suara mesin espresso tua mendesis dan Nadine tertawa kecil mendengar sesuatu yang ia katakan.
Tentang perjalanan pulang dari pusat kota yang memakan waktu kurang dari sepuluh menit, tapi entah kenapa selalu terasa lebih lama karena mereka sengaja melambat.
Tentang dagu Nadine yang pernah bersandar di bahunya dua minggu lalu, dan bagaimana ia tidak bisa berhenti memikirkannya sejak saat itu. Tentang semua pesan yang ia ketik lalu hapus. Tentang semua kata yang tidak pernah ia ucapkan.
Ia menulis tentang tawaran kerja di Jakarta yang sudah ia batalkan pagi ini.
Tentang mimpinya membangun sesuatu yang besar, dan bagaimana ia baru sadar bahwa mimpi itu tidak akan berarti apa-apa tanpa seseorang untuk berbagi.
Tentang ketakutannya: takut ditolak, takut tidak cukup baik, takut bahwa apa yang ia rasakan tidak sebanding dengan apa yang Nadine rasakan.
Tentang penyesalannya: bahwa ia butuh waktu terlalu lama untuk menyadari bahwa cinta yang hanya dirasakan tanpa diucapkan tidak pernah cukup. Bahwa kehadiran adalah satu-satunya bahasa yang tidak bisa dihapus.
Bima menulis sampai tangannya kram. Sampai tinta di pulpen itu nyaris habis. Sampai ia tidak bisa lagi membedakan mana ketakutan dan mana harapan, karena keduanya sudah menjadi satu di atas kertas itu.
Ketika selesai, ia melipat kertas itu menjadi dua. Tidak rapi – lipatannya miring sedikit, tapi ia tidak peduli. Ia menyelipkannya ke dalam saku jaket, lalu bangkit dari kursi.
Di luar, Surabaya sudah sepenuhnya terjaga. Bima bisa mendengar suara klakson dari jalan raya di bawah apartemennya, deru mesin motor yang saling bersahutan, suara pedagang yang mulai membuka lapak.
Kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berhenti sejenak, lalu melanjutkan ritmenya sendiri.
Bima mengenaakan kacamata tipis berbingkai logamnya. Ia melirik dirinya sekilas di pantulan kaca jendela – postur jangkung dengan bahu sedikit membungkuk, rambut hitam pendek yang sudah mulai butuh dipotong.
Wajah seseorang yang belum tidur cukup, tapi matanya memancarkan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Keteguhan, mungkin. Atau mungkin hanya kelelahan yang sudah berubah menjadi tekad.
Ia keluar dari apartemen, menuruni tangga, dan membuka pintu parkiran.
Motornya berdiri di sana, sedikit berdebu karena sudah lima hari tidak ia sentuh. Bima mengelap joknya dengan telapak tangan, lalu menstarter mesin.
Suaranya menderu, memecah kesunyian pagi. Ia naik, memasang helm, dan melaju keluar dari kompleks apartemen.
Jalan raya Surabaya pagi itu ramai dengan ritme yang bisa ditebak – mobil-mobil yang merayap di lampu merah, motor yang menyelip di antara celah-celah sempit, pejalan kaki yang menyeberang dengan setengah berlari.
Tapi bagi Bima, pagi itu terasa berbeda. Setiap tikungan, setiap persimpangan, setiap lampu merah yang memaksanya berhenti, semuanya terasa seperti pilihan.
Bukan lagi rutinitas kosong. Bukan lagi perjalanan pulang yang hanya menjadi latar belakang pikirannya sendiri. Kali ini, ia tahu persis ke mana ia akan pergi.
Ia mencari Nadine.
Bima tidak tahu di mana tepatnya Nadine berada pagi itu. Ia hanya punya firasat – firasat yang samar, tapi cukup kuat untuk membuatnya terus melaju. Ia melewati warung kopi Mbok Darmi.
Tempat itu masih tutup, tapi ia melambatkan motornya sejenak, melirik ke dalam melalui kaca jendela. Kosong. Ia melewati taman kota tempat mereka bertemu sembilan hari lalu, tempat Nadine berjalan menjauh tanpa menoleh.
Tempat lampu-lampu taman menyala satu per satu dan ia akhirnya sadar bahwa diamnya selama ini adalah kesalahan fatal. Taman itu sepi di pagi hari. Hanya ada seorang petugas kebersihan yang menyapu daun-daun kering.
Ia terus melaju.
Di sebuah persimpangan dekat pusat kota, Bima hampir berhenti. Hampir memutar balik dan pulang.
Keraguan lama itu kembali – suara kecil di belakang kepalanya yang berbisik bahwa ia sudah terlambat, bahwa surat ini tidak akan mengubah apa-apa, bahwa Nadine mungkin sudah tidak ingin melihatnya lagi.
Tapi kali ini, ia tidak mendengarkan suara itu. Ia menggengam stang motornya lebih erat, dan melanjutkan perjalanan.
Dan kemudian ia melihatnya.
Di sebuah sudut jalan, di depan toko buku bekas yang sudah tutup, Nadine berdiri. Rambut bergelombang sebahu dengan poni sampingnya sedikit berantakan tertiup angin.
