Damar berdiri di depan cermin apartemennya, menatap pantulan dirinya sendiri dengan setelan jas abu-abu yang terasa sedikit kaku di bahu.
Ia sudah menyewa apartemen ini selama dua tahun, dan entah mengapa malam ini ruangan itu terasa lebih kecil dari biasanya. Mungkin karena ia tahu ke mana ia akan pergi. Mungkin karena ia tahu apa yang akan ia saksikan di sana.
Undangan pernikahan Nara masih tergeletak di meja samping tempat tidur, kertas tebal dengan tulisan emas yang sudah ia baca tiga kali sejak pagi.
Damar mengambilnya, melipatnya dengan hati-hati, lalu menyelipkannya ke dalam saku jas. Gerakan itu terasa mekanis, seperti segala hal lain yang ia lakukan akhir-akhir ini. Bangun. Mandi. Kerja. Tidur.
Lima setengah jam setiap malam, rata-rata. Angka itu muncul di kepalanya tanpa ia minta, sisa-sisa kebiasaan lama yang mengubah segala sesuatu menjadi data.
Ia melirik ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Layar itu hanya menampilkan deretan notifikasi dari grup kerja, kalender rapat, dan pengingat tenggat waktu proyek Delta.
Sudah hampir tiga minggu sejak ia mengirim paket ke Yogyakarta, dan keheningan dari arah Sari terasa seperti sesuatu yang padat, sesuatu yang mengisi ruang di antara dinding-dinding apartemen ini meskipun tidak bisa disentuh.
Damar mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke saku. Di luar, Jakarta masih bergerak dengan ritme yang tidak pernah melambat. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat ke aspal basah bekas hujan sore.
Damar memesan taksi daring dan menunggu di lobi apartemen sambil menatap jalanan melalui kaca pintu masuk.
Mobil-mobil melintas dengan kecepatan yang hampir seragam, dan di dalam salah satunya, mungkin, ada seseorang yang juga sedang dalam perjalanan menuju sebuah perayaan, atau menuju sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak bisa dilacak dengan estimasi waktu kedatangan di aplikasi.
Ponselnya bergetar. Bayu.
“Gue udah di lokasi. Lo masih lama?”
“Sepuluh menit.”
“Oke. Gue pesenin air putih ya. Lo keliatan kayak orang yang butuh air putih.”
Damar nyaris tersenyum. Bayu selalu bisa membaca situasi dengan cara yang tidak sentimental, dan itu adalah salah satu hal yang membuat persahabatan mereka bertahan selama bertahun-tahun.
Sejak masa kuliah, sejak startup mereka gagal, sejak Damar memilih jalur korporat dan Bayu memilih bertahan sebagai pengembang independen, mereka tetap saling memahami dengan cara yang tidak memerlukan banyak kata-kata.
Malam ini Bayu hadir di pernikahan Nara, dan Damar tidak perlu bertanya mengapa. Bayu tahu.
Gedung pernikahan itu berada di kawasan Jakarta Selatan, sebuah bangunan modern dengan fasad kaca dan lampu-lampu gantung yang memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer.
Damar tiba dan langsung disambut oleh suara tawa dan musik yang mengalun lembut dari dalam ruangan utama.
Ia berjalan melewati pintu masuk, melewati meja registrasi tamu, melewati rangkaian bunga putih yang disusun dengan presisi di sepanjang koridor.
Segala sesuatu di sini terasa terencana dengan baik. Teratur. Sistematis. Seperti spreadsheet yang dieksekusi dengan sempurna.
Dan di ujung ruangan, di atas pelaminan yang dihiasi kain satin dan lampu sorot, Nara dan pasangannya duduk berseri-seri.
Senyum mereka lebar, tawa mereka renyah, dan di antara mereka ada sesuatu yang Damar tidak bisa namai. Sesuatu yang tampak utuh.
“Damar!” Suara Bayu memotong lamunannya. Temannya itu sudah berdiri di samping meja minuman, memegang dua gelas air putih.
“Sini. Lo butuh ini sebelum lo mulai ngobrol sama orang-orang.”
Damar mengambil gelas itu dan meneguknya dalam satu tarikan panjang. Airnya dingin, dan itu membantu sedikit. Hanya sedikit.
“Gue liat lo dari tadi berdiri di pintu kayak orang yang baru pertama kali masuk ke gedung pernikahan,” kata Bayu, menyesuaikan kacamata bulatnya yang sedikit miring.
“Padahal lo udah pernah dateng ke berapa pernikahan tahun ini? Tiga? Empat?”
“Ini yang keempat.”
“Dan tiap kali lo keliatan makin nggak nyaman.” Damar tidak menjawab.
Ia menatap ke arah pelaminan, tempat Nara sekarang sedang menerima ucapan selamat dari seorang tamu yang lebih tua.
Nara mengenakan jas putih dengan detail bordir emas di kerahnya, dan di sampingnya, istrinya mengenakan gaun pengantin yang menjuntai ke lantai dengan lipatan-lipatan kain yang lembut.
Mereka tampak seperti dua orang yang telah menemukan sesuatu. Sesuatu yang, bagi Damar, terasa semakin jauh setiap kali ia menghadiri pernikahan orang lain.
“Lo udah ngomong sama Nara?” tanya Bayu.
“Belum. Baru aja nyampe.”
“Dia nanya lo tadi. Soal proyek Delta. Katanya dia denger lo bakal dapet promosi.”
“Masih dalam pembahasan.” Damar mengangguk pelan.
“Masih dalam pembahasan,” ulang Bayu dengan nada datar.
“Lo selalu bilang gitu. Padahal gue tau lo udah hampir pasti dapet. Cuma lo nggak mau ngakuin karena lo takut orang lain ngeliat lo terlalu ambisius.”
Damar menatap Bayu, dan untuk sesaat ia ingin membantah. Tapi Bayu benar. Tawaran promosi itu sudah ada di mejanya sejak dua minggu lalu, lengkap dengan jabatan baru dan tanggung jawab yang lebih besar.
Lebih banyak perjalanan dinas. Lebih banyak jam kerja. Lebih banyak hal yang akan mengisi waktunya, dan lebih sedikit ruang untuk hal-hal lain. Untuk siapa pun yang lain.
“Gue nggak takut dianggep ambisius,” kata Damar akhirnya.
“Gue cuma…”
Ia berhenti. Kalimat itu menggantung di udara, tidak selesai. Bayu menunggu, tapi tidak mendesak. Di antara mereka berdua, keheningan itu terasa lebih ringan daripada yang seharusnya.
Mungkin karena Bayu sudah terbiasa dengan cara Damar berbicara, dengan jeda-jeda panjang yang muncul setiap kali Damar mencoba mengartikulasikan sesuatu yang tidak bisa ia rumuskan dalam bentuk data.
“Lo cuma apa?” tanya Bayu akhirnya, suaranya rendah.
“Gue cuma nggak yakin ini yang gue mau.” Damar menatap gelas kosong di tangannya.
Bayu tidak menjawab. Ia hanya menganguk pelan, dan dalam anggukan itu ada sesuatu yang terasa seperti pengertian. Bukan simpati yang berlebihan, bukan kata-kata penghibur yang kosong.
Hanya pengakuan bahwa ya, ini memang sulit, dan ya, tidak ada jawaban yang mudah. Damar ingat bahwa Bayu pernah berada di posisi yang mirip. Startup mereka gagal, dan Bayu kehilangan bukan hanya uang tetapi juga arah.
Mungkin itu sebabnya Bayu bisa duduk di sini sekarang, di tengah pernikahan orang lain, dan tidak merasa perlu untuk berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.
Seorang tamu mendekati mereka. Wajahnya dikenal oleh Damar, seorang rekan dari divisi lain yang sudah beberapa kali muncul di rapat lintas departemen.
Namanya… Damar mencari-cari di ingatannya. Aris? Arif? Sesuatu dengan huruf A.
“Damar! Lama nggak ketemu,” kata orang itu, menjabat tangan Damar dengan antusiasme yang terasa sedikit berlebihan.
“Gue denger lo bakal naik jabatan ya? Selamat ya, selamat. Pantas aja Nara selalu muji-muji lo di kantor.”
“Belum pasti. Masih banyak yang harus dikerjakan.” Damar memaksakan senyum.
“Ah, lo terlalu rendah hati. Padahal semua orang juga tau lo paling rajin di antara kita. Eh, ngomong-ngomong, lo sendiri kapan nyusul? Maksud gue, kapan kita dateng ke pernikahan lo?”
Pertanyaan itu meluncur dengan ringan, seperti lelucon yang sudah sering diulang dalam obrolan-obrolan kantor. Tapi bagi Damar, kata-kata itu mendarat dengan cara yang berbeda.
