Warung kopi Mbok Darmi tidak pernah berubah. Bima menyadari itu begitu ia mendorong pintu kayunya yang sedikit seret, dan aroma kopi robusta yang baru digiling menyambutnya seperti tamu lama yang tak perlu basa-basi.
Langit-langit warung yang rendah, dinding bata ekspos yang mulai mengelupas di beberapa sudut, dan suara radio tua yang memutar lagu keroncong dari stasiun lokal, semuanya masih persis seperti kunjungan pertamanya tiga tahun lalu.
Hanya lantai semennya yang hari ini sedikit basah, sisa-sisa hujan yang turun tadi siang dan belum sepenuhnya kering. Bima memilih tempat duduk di sudut, meja kayu kecil yang menghadap ke jalan lewat jendela berteralis.
Dari sana ia bisa melihat motor-motor yang melintas pelan, ban mereka menyisir genangan air tipis di aspal. Ia belum melepas jaketnya.
Entah kenapa ia merasa perlu menunda momen itu, momen ketika ia akhirnya duduk sepenuhnya dan membiarkan pikirannya mengambil alih.
“Kopi hitam, Mas Bima?” Suara itu datang dari balik meja saji.
Pak Suryono sudah berdiri di sana dengan cangkir keramik putih di tangannya, kumis tebalnya yang mulai memutih melengkung mengikuti senyum kecil di wajahnya.
Kemeja batik lengan pendek yang ia kenakan hari ini bermotif parang, sedikit luntur di bagian kerah. Bima tidak ingat pernah melihat pria itu mengenakan kemeja lain.
“Seperti biasa, Pak.”
Pak Suryono mengangguk dan berbalik ke mesin kopi tuanya, mesin yang lebih sering mengeluarkan suara mendesis ketimbang kopi yang sebenarnya. Tapi Bima tidak pernah keberatan.
Kopi di warung ini bukan soal rasa, ia sudah lama menyadarinya. Ini soal ritual. Soal duduk diam dan membiarkan sesuatu yang hangat mengisi ruang di antara pikiran-pikiran yang tidak bisa ia susun.
Warung kopi Mbok Darmi sebenarnya milik Mbok Darmi, perempuan Jawa berusia enam puluhan yang mewariskan resep kopi dari almarhum suaminya.
Tapi sejak tiga tahun terakhir, Mbok Darmi lebih banyak menghabiskan waktu di belakang, mengurus cucu-cucunya yang datang sepulang sekolah.
Yang berdiri di depan, menyeduh kopi dan menyapa pelanggan, adalah Pak Suryono, adik iparnya yang dulu mengajar matematika di SMP negeri sebelum memutuskan berhenti setelah istrinya meninggal.
Bima tahu cerita itu karena suatu malam, saat warung hampir tutup dan hanya tersisa mereka berdua, Pak Suryono menceritakannya dengan nada yang datar, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan kehilangan tapi belum sepenuhnya melupakannya.
Cangkir kopi mendarat di meja dengan bunyi pelan. Bima mengangguk berterima kasih, dan Pak Suryono kembali ke tempatnya di balik meja saji, mengambil lap kecil dan mulai membersihkan gelas-gelas yang sudah kering.
Gerakannya pelan dan terukur, seperti seseorang yang sudah melakukan ini ribuan kali dan menemukan semacam ketenangan dalam repetisi.
Bima menyesap kopinya. Pahit. Selalu pahit di tegukan pertama, sebelum lidahnya menyesuaikan diri.
Pintu warung terbuka lagi.
Suara engselnya yang berdecit membuat Bima mendongak, dan di sanalah Nadine Putri berdiri, satu tangan masih memegang gagang pintu, rambut bergelombang sebahunya sedikit basah di bagian ujung.
Hujan rintik-rintik di luar, Bima baru menyadarinya sekarang.
Nadine mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, dan anting-anting kayu kecilnya, yang selalu ia pakai, bergoyang pelan saat ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari tempat duduk.
Mata mereka bertemu.
Bima merasakan sesuatu di dalam dadanya, bukan debaran yang dramatis, bukan juga kekosongan. Sesuatu di antaranya. Sebuah getar kecil yang membuat tangannya tanpa sadar memutar cangkir kopinya satu senti ke kanan.
“Bima.” Nadine menyebut namanya dengan nada yang lebih mirip pernyataan ketimbang sapaan. Ia tersenyum, senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata, persis seperti biasanya.
Tapi ada sesuatu di sudut matanya hari ini, sesuatu yang Bima tidak bisa sebutkan dengan pasti. Mungkin kelelahan. Mungkin sesuatu yang lain.
“Nadine. Aku tidak tahu kamu juga ke sini.”
Itu tidak sepenuhnya jujur. Mereka memang tidak membuat janji, tapi ini bukan pertama kalinya mereka bertemu di warung yang sama tanpa sengaja.
Warung kopi Mbok Darmi sudah menjadi semacam titik temu tak resmi di antara mereka, tempat di mana percakapan tentang revisi desain sering kali berubah menjadi percakapan tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Bima tidak tahu siapa yang pertama kali menyarankan tempat ini, tapi ia menduga itu adalah dirinya sendiri, suatu sore di tahun pertama mereka bekerja bersama, ketika ia masih cukup berani untuk mengajak Nadine minum kopi tanpa alasan proyek yang mendesak.
Nadine berjalan ke mejanya, langkahnya ringan tapi ada jeda kecil di setiap langkah, seolah ia juga sedang mempertimbangkan sesuatu.
Ia menarik kursi di seberang Bima dan duduk, meletakkan tas selempang kainnya di atas meja sebelum akhirnya menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
“Aku baru selesai meeting dengan klien,” katanya.
“Di kafe sebelah. Tapi kopi di sana terlalu asam.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena selalu begitu.”
Pak Suryono mendekat, membawa menu yang sebenarnya tidak perlu ia bawa karena Nadine selalu memesan hal yang sama.
“Kopi susu aren, Mbak?” tanyanya, dan Nadine mengangguk dengan senyum yang sedikit lebih lebar.
“Pak Suryono ingat terus.”
“Pelanggan tetap,” kata Pak Suryono, dan untuk pertama kalinya Bima melihat pria itu melirik ke arah mereka berdua, bukan sekadar ke meja atau ke cangkir yang perlu diisi.
Ada sesuatu dalam lirikan itu, sesuatu yang terlalu cepat untuk disebut pengamatan tapi terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Pak Suryono menatap Bima, lalu Nadine, lalu kembali ke Bima, dan kumisnya bergerak sedikit, seperti seseorang yang baru saja membaca satu baris kalimat dan memutuskan untuk tidak mengomentarinya dulu.
Ia berbalik dan kembali ke mesin kopinya.
Nadine mengeluarkan ponselnya, memeriksa sesuatu di layar, lalu meletakkannya dengan layar menghadap ke bawah.
“Proyek yang kemarin,” katanya, membuka percakapan.
“Klien minta revisi lagi. Mereka bilang warnanya kurang ‘muda dan bersemangat’. Aku tidak tahu apa maksudnya.”
Bima mengangguk, merasa lega karena percakapan dimulai dengan sesuatu yang aman.
“Mereka selalu minta revisi. Itu pekerjaan kita.”
“Aku tahu. Tapi yang ini berbeda. Mereka minta tiga revisi dalam satu minggu, dan setiap kali brief-nya berubah total. Pertama mereka maunya minimalis, lalu mereka bilang terlalu polos, sekarang mereka maunya ‘muda dan bersemangat’. Aku rasa mereka sendiri tidak tahu apa maunya.”
“Atau mereka tahu, tapi tidak bisa menjelaskannya.”
Nadine menatapnya, dan untuk sesaat Bima merasa kata-katanya sendiri menggantung di udara, bermakna lebih dari yang ia maksudkan.
Ia teringat pada pesan yang ia tulis dan hapus tadi malam, pada kata-kata yang ia susun dengan hati-hati sebelum akhirnya ia lenyapkan dengan satu sentuhan jari.
Apakah Nadine sedang memikirkannya juga? Apakah pertemuan ini benar-benar kebetulan, atau apakah Nadine datang ke sini karena ia tahu, entah bagaimana, bahwa Bima akan ada di sini?
“Kamu benar,” kata Nadine akhirnya.
“Banyak orang tahu apa yang mereka inginkan, tapi tidak bisa mengatakannya. Atau tidak berani.”
Bima menyesap kopinya lagi, lebih lama kali ini, memberi dirinya waktu untuk tidak merespons. Kopinya sudah mulai dingin.
