Bab 4 – Kopi yang Tidak Dipesan

Udara siang di warung kopi Mbok Darmi terasa lebih berat dari biasanya. Bima Aditya duduk di sudut favoritnya, kursi kayu jati yang sudah mulai mengilap di bagian sandaran karena terlalu sering digosok punggung pelanggan.

Di atas meja, buku catatan bisnisnya terbuka pada halaman yang sama selama dua puluh menit terakhir.

Angka-angka proyeksi pendapatan bulan depan berbaur dengan coretan kecil di pinggir kertas, bentuk-bentuk abstrak yang tidak ia sadari telah ia gambar.

Dua minggu sejak perjalanan motor yang sunyi. Dua minggu sejak dagu Nadine menyandar di bahunya dan meninggalkan jejak yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Bima masih memikirkannya lebih sering daripada yang ia akui pada diri sendiri. Warung kopi itu sepi. Hanya dua meja lain yang terisi, keduanya oleh pelanggan yang terlalu sibuk dengan laptop masing-masing.

Mesin espresso tua di balik meja bar mengeluarkan suara desis pelan, seperti napas seseorang yang sedang menahan sesuatu.

Pak Suryono berdiri di belakang meja bar, tangannya sibuk membersihkan portafilter dengan lap kain yang sudah berwarna cokelat karena bertahun-tahun menyerap ampas kopi.

Bima menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Nadine. Tidak ada notifikasi apa pun.

Ia membuka percakapan mereka, menggulir ke atas, membaca kembali pesan-pesan singkat tentang revisi desain dan tenggat proyek yang sudah mereka kirimkan sepanjang pekan ini.

Semuanya terasa fungsional. Tidak ada yang menyinggung malam itu di warung. Tidak ada yang menyebut tentang keheningan di perjalanan pulang. Seakan-akan momen itu tidak pernah ada.

Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, ritme yang tidak beraturan. Buku catatan bisnis itu seharusnya menjadi alasan ia datang ke sini hari ini.

Ada proposal proyek baru yang perlu ia selesaikan sebelum akhir pekan. Tapi angka-angka di hadapannya hanya menjadi latar belakang yang kabur, sementara pikirannya terus melayang pada satu pertanyaan yang sama.

Apakah ia sudah terlambat untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. Suara langkah kaki menghentikan ritme jemarinya.

Bima mendongak. Nadine Putri berdiri di depan pintu masuk, tangannya masih memegang gagang pintu kayu yang belum sepenuhnya tertutup.

Anting-anting kayu kecilnya bergoyang pelan, menangkap cahaya lampu gantang yang redup. Rambutnya yang bergelombang sebahu tampak sedikit berantakan, seperti selesai menerjang angin siang di luar.

Ia mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung sampai siku, dan di bahunya tergantang tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya.

Mereka saling menatap selama tiga detik yang terasa lebih lama.

Nadine tersenyum lebih dulu, seperti biasanya. Seperti yang sela lu ia lakukan. Senyum itu muncul sebelum kata-kata, dan Bima sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa senyum itu adalah tameng.

“Aku tidak menyangka kamu di sini,” kata Nadine.

Bima menggeser buku catatannya ke samping, memberi ruang di meja meskipun tidak ada yang perlu diberi ruang.
“Aku juga tidak menyangka kamu akan datang.”

“Ada klien di daerah sini. Baru selesai.” Nadine menarik kursi di seberangnya dan duduk tanpa diminta. Gerakannya alami, seperti orang yang sudah terlalu sering duduk di kursi yang sama.

“Kamu sendiri? Sedang mengerjakan sesuatu?”

Matanya melirik ke buku catatan yang terbuka. Bima menutupnya sebelum Nadine sempat membaca lebih jau.
“Hanya catatan biasa. Proyeksi untuk proyek baru.”

Nadine mengangguk. Jemarinya merapikan poni samping yang sedikit menutupi matanya.
“Proyek yang kamu ceritakan minggu lalu?”

“Yang itu, ya.”

Percakapan mengalir seperti air yang terlalu pelan untuk disebut arus. Mereka membahas detail proyek, revisi desain yang masih belum jelas arahnya, klien yang terus mengubah brief di tengah jalan.

Kata-kata yang aman. Topik-topik yang tidak memerlukan keberanian untuk diucapkan.

Bima mendengar suaranya sendiri menjawab dengan kalimat-kalimat pendek, dan ia menyadari bahwa ia sedang melakukan hal yang persis sama seperti yang ia lakukan dua minggu lalu: mengisi ruang dengan apa pun selain kejujuran.

Di antara jeda percakapan, Bima memperhatikan bagaimana Nadine memainkan anting-antingnya. Jemari telunjuk dan ibu jarinya memutar kayu kecil itu pelan, gerakan yang tidak disadari.

Ia pernah melihat Nadine melakukan itu ketika gugup, ketika ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tidak jadi. Bima ingin bertanya apa yang sedang ia pikirkan. Tapi pertanyaan itu terasa terlalu berat untuk diucapkan di siang yang terang.

“Aku mau pesan kopi dulu,” kata Bima akhirnya, setengah berdiri dari kursinya.

Tapi sebelum ia sempat melangkah ke meja bar, Pak Suryono sudah berjalan ke arah mereka.

Langkahnya pelan, tidak tergesa-gesa, seperti orang yang sudah terlalu lama berdiri di belakang meja bar dan tahu persis kapan harus bergerak. Di tangannya, dua cangkir kopi hitam pekat mengepulkan uap tipis.

Bima memandang cangkir-cangkir itu, lalu memandang Pak Suryono, lalu kembali ke cangkir-cangkir itu.

Ia tidak memesannya. Nadine juga tidak.

Pak Suryono meletakkan kedua cangkir itu di atas meja, satu di hadapan Bima, satu di hadapan Nadine. Gerakannya hati-hati, seperti sedang menaruh sesuatu yang lebih berharga dari sekadar minuman kafein.

Uap kopi itu naik dan berbaur dengan udara siang yang pengap. Pak Suryono tidak segera pergi.

Ia berdiri di sisi meja mereka, tangannya yang kasar bekas menggiling kopi bertumpu di pinggang, dan matanya menatap Bima, lalu Nadine, lalu Bima lagi. Tatapan itu bukan tatapan biasa.

Ada sesuatu di dalamnya yang membuat Bima merasa seperti sedang dibaca, seperti semua kata yang tidak pernah ia ucapkan selama dua minggu terakhir tiba-tiba tertulis di dahinya dengan tinta yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah hidup cukup lama untuk mengenali kebohongan.

Pak Suryono tidak berkata apa-apa. Kumis tebalnya yang mulai memutih bergerak sedikit, mungkin karena ia menahan senyum, mungkin karena ia sedang memikirkan sesuatu. Matanya tidak berkedip.

Bima ingin mengatakan sesuatu. Mungkin menjelaskan bahwa ia tidak memesan kopi. Mungkin bertanya kenapa Pak Suryono membawakan dua cangkir tanpa diminta.

Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya, dan yang keluar hanya keheningan.

Nadine menatap cangkir di hadapannya, lalu menatap Pak Suryono. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, bukan senyum tameng yang tadi, tapi sesuatu yang lebih lunak.

Ada sedikit kelegaan di matanya, seolah-olah ia sudah menunggu seseorang melakukan sesuatu seperti ini.
“Terima kasih, Pak,” katanya pelan.

Pak Suryono mengangguk. Satu anggukan pendek yang entah ditujukan untuk Nadine, untuk Bima, atau untuk mereka berdua.

Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke meja bar, meninggalkan mereka dengan dua cangkir kopi yang tidak dipesan dan keheningan yang tiba-tiba terasa berbeda.

Latest Novel ionicons-v5-c