Raka menggeleng pelan. “Saya hanya… seseorang yang pernah dibantu oleh Dimas.”
“Kapan?”
“Dulu. Waktu saya masih kecil.”
Sarah menatap Raka. Tubuh kurus itu. Seragam sekolah yang kusut. Jaket tipis yang usang. Dan tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tidak ia lihat sebelumnya. Atau sesuatu yang selama ini ia pilih untuk tidak lihat.
Raka bukan sekadar remaja yang menemukan barang-barang bekas di pasar. Raka adalah seseorang yang membawa cerita. Seseorang yang membawa bagian hidup Dimas yang tidak pernah diketahui Sarah.
Seseorang yang, entah bagaimana, telah menjadi penjaga kenangan yang bahkan Sarah sendiri tidak pernah menyadari keberadaannya.
“Dimas mengajarimu memperbaiki barang?” tanya Sarah.
“Radio,” jawab Raka. Suaranya sedikit lebih kuat sekarang.
“Beliau mengajari saya membongkar radio tua. Waktu itu saya tidak punya siapa-siapa. Orang tua saya… tidak ada. Saya tinggal sama paman. Paman saya sibuk. Dimas datang ke bengkel paman saya suatu hari, lihat saya sedang mencoba memperbaiki radio rusak, dan beliau duduk di samping saya. Beliau bilang, ‘Kalau kamu mau belajar, saya bisa ajarin.'”
Sarah mendengarkan. Dan semakin Raka berbicara, semakin ia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pada tempatnya. Raka berbicara tentang Dimas dengan keakraban yang seharusnya tidak dimiliki oleh seseorang yang hanya bertemu sekali atau dua kali.
Ia berbicara tentang Dimas seperti seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersamanya.
Seperti seseorang yang mengenalnya tidak hanya sebagai orang asing yang membantu, melainkan sebagai… sebagai apa? Sarah tidak bisa menyelesaikan pertanyaan itu di kepalanya.
“Berapa kali kamu bertemu Dimas?” tanyanya.
Raka terdiam. Ia menunduk lagi. Kali ini lebih lama.
“Beberapa kali,” katanya akhirnya. Dan Sarah tahu bahwa itu bukan jawaban yang sebenarnya. Atau setidaknya, bukan jawaban yang lengkap.
Ia ingin mendesak lagi. Ia ingin memaksa Raka untuk memberitahunya segalanya. Namun sesuatu menahannya. Mungkin kelelahan. Mungkin ketakutan.
Mungkin kesadaran bahwa jika ia mendorong terlalu keras, Raka akan pergi, dan bersamanya akan pergi semua jawaban yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
Maka ia memilih untuk diam. Ia memilih untuk kembali ke meja kerjanya. Ia memilih untuk memungut obeng kecil dan mulai mengerjakan roda gigi kotak musik, meskipun tangannya gemetar dan pikirannya tidak berada di sana sama sekali.
Raka tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak pergi. Ia juga tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, di antara detak tiga puluh dua jam, seperti sebuah jam lain yang tidak tercatat dalam hitungan Sarah.
“Kakak tidak perlu takut,” kata Raka tiba-tiba.
Sarah menghentikan gerakannya.
“Takut apa?”
” Saya nggak tahu sih… tapi rasanya Kakak masih nunggu sesuatu.”
Kata-kata itu menusuk tepat di tempat yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun selama delapan tahun. Tepat di pusat ketakutan yang selama ini Sarah pelihara dan rawat dan pertahankan seperti ia mempertahankan kamar Dimas.
Tepat di inti dari segala sesuatu yang membuatnya tidak bisa melepaskan. Sarah meletakkan obengnya. Ia menoleh. Ia menatap Raka, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang remaja.
Ia melihat seseorang yang, entah bagaimana, tahu. Seseorang yang, entah bagaimana, mengerti. Seseorang yang, entah bagaimana, telah berjalan melewati pintu yang selama ini Sarah kunci rapat-rapat dan kini berdiri di dalam ruangan yang sama dengannya.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang itu,” kata Sarah. Suaranya rendah. Hampir seperti geraman.
“Saya cuma merasa surat itu memang ditujukan buat Kakak.” kata Raka pelan.
Sarah terdiam. Surat itu. Amplop di dalam lacinya. Kata-kata yang telah ia baca berulang kali. Tidak semua yang rusak itu salah Mbak. Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Dimas tidak menulis surat itu untuk memintanya berhenti merasa bersalah. Dimas menulis surat itu karena ia tahu. Ia tahu bahwa suatu hari nanti, kakaknya akan menemukannya.
Ia tahu bahwa suatu hari nanti, kakaknya akan membutuhkannya. Dan ia meninggalkannya di sana, di dalam jam meja tua, menunggu selama delapan tahun, karena ia percaya bahwa kakaknya pada akhirnya akan siap.
Di luar, cahaya senja telah sepenuhnya meredup. Lampu neon di bengkel berkedip pelan, memancarkan cahaya putih yang dingin. Sarah menatap Raka. Raka menatapnya balik.
Dan di antara mereka, detak jam terus berjalan, tidak menunggu siapa pun, tidak mempedulikan siapa pun, hanya terus bergerak maju seperti yang selalu dilakukan waktu.
“Saya akan kembali,” kata Raka akhirnya. Ia berbalik. Ia berjalan ke arah pintu. Dan sebelum ia keluar, ia berhenti sejenak.
“Kakak simpan saja surat itu. Baca lagi. Dimas menulisnya untuk Kakak. Bukan untuk saya.”
Pintu tertutup. Suara langkah kaki Raka memudar di kejauhan.
Dan Sarah Wulandari tetap duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh tiga puluh dua jam yang terus berdetak, dengan sebuah amplop di dalam lacinya dan sebuah pertanyaan yang kini tidak lagi bisa ia abaikan. Pertanyaan yang tidak dijawab oleh Raka.
Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah dijawab oleh siapa pun. Namun pertanyaan yang, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, membuat Sarah ingin mencari tahu.
Bukan untuk memperbaiki. Bukan untuk mempertahankan. Hanya untuk mengerti.
Ia membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan amplop itu. Ia membukanya sekali lagi, menarik secarik kertas dari dalamnya, dan membaca tulisan tangan adiknya untuk kesekian kalinya.
Kali ini, ia tidak berhenti di kalimat pertama. Ia membaca sampai akhir.
Sampai kalimat terakhir yang selama dua hari ini belum pernah ia baca karena ia selalu berhenti di tengah, selalu terhenti oleh air mata yang mengaburkan pandangannya. Namun kali ini ia tidak menangis. Kali ini ia membaca.
Mbak Sarah tidak perlu memperbaiki semuanya. Tidak semua yang rusak itu salah Mbak. Kadang ada yang rusak karena memang sudah waktunya. Seperti jam yang sudah terlalu tua.
Seperti radio yang sudah tidak bisa menyala lagi. Seperti saya. Saya tidak ingin Mbak Sarah menghabiskan hidup memperbaiki saya. Saya ingin Mbak Sarah hidup. Itu saja.
Sarah melipat kertas itu kembali. Memasukkannya ke dalam amplop. Menyimpannya di dalam laci. Lalu ia menyalakan lampu neon di atas meja kerjanya, memungut roda gigi kecil dari kotak musik, dan mulai bekerja.
Tangannya masih gemetar. Namun kali ini, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia tidak mencoba menghentikan getaran itu.

