Bab 7 – Mainan Kayu yang Patah

Goresannya tidak rata. Beberapa bagian lebih dalam dari yang lain. Seperti seseorang yang tidak terbiasa mengukir, yang melakukannya dengan hati-hati tapi tanpa keterampilan.

Dan entah kenapa, justru ketidaksempurnaan itu yang membuat dada Sarah terasa semakin sesak.

“Dimas selalu begitu,” katanya pelan, dan ia tidak tahu apakah ia berbicara kepada Raka atau kepada dirinya sendiri.

“Dia selalu bantu orang. Tapi dia nggak pernah cerita. Seolah-olah itu bukan sesuatu yang penting. Seolah-olah membantu orang lain itu… biasa saja.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Sarah dengan ekspresi yang sulit diartikan. Mungkin ia mengerti. Mungkin ia tidak. Tapi ada sesuatu dalam diamnya yang terasa seperti pengakuan.

Seperti seseorang yang juga pernah menjadi penerima kebaikan Dimas yang tidak pernah diceritakan, dan yang sekarang berdiri di sini sebagai bukti hidup bahwa semua itu benar-benar terjadi.

Sarah meletakkan burung itu di atas meja kerjanya, di samping kotak kayu kecil tempat ia menyimpan jam saku Dimas dan jam saku Raka.

Dua benda yang identik, dua benda yang sama-sama berhenti pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, dua benda yang sekarang berbaring berdampingan seperti dua saudara yang tidak pernah saling mengenal tapi memiliki asal yang sama.

Dan sekarang burung ini. Benda ketiga. Bukti ketiga bahwa hidup Dimas jauh lebih besar dari yang Sarah sangka.

“Sayapnya bisa diperbaiki,” katanya, menyentuh bagian yang patah dengan ujung jarinya.

Tapi bahkan saat ia mengatakannya, ia tahu bahwa itu bukan pertanyaan yang sebenarnya. Pertanyaan yang sebenarnya adalah.

Apakah ia ingin memperbaikinya?
Apakah ia ingin mengembalikan burung ini ke bentuk aslinya, membuatnya utuh lagi, seolah-olah delapan tahun tidak pernah berlalu dan sayap ini tidak pernah patah?

Atau apakah ia ingin membiarkannya seperti ini – patah, rusak, tidak sempurna – sebagai pengingat bahwa tidak semua hal bisa dikembalikan ke keadaan semula?

Raka memandangi burung itu lama sekali sebelum akhirnya berbicara.

“Waktu saya kecil,” katanya pelan,
“saya punya mainan kayu juga. Bukan burung. Tapi kuda. Kakinya patah satu. Saya simpan terus. Saya nggak pernah mau buang, meskipun udah rusak. Soalnya… itu satu-satunya yang saya punya.”

Sarah menatapnya. Anak laki-laki kurus dengan jaket tipis dan seragam kusut yang berdiri di bengkelnya pada pukul enam pagi, membawa potongan-potongan masa lalu yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, Sarah bertanya-tanya tentang hidup Raka. Tentang apa yang membuatnya terus mencari barang-barang bekas di pasar.

Tentang apa yang membuatnya terus kembali ke bengkel ini meskipun Sarah tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan.

“Kenapa kamu terus datang ke sini?” tanyanya. Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan, tanpa ia saring.
“Kenapa kamu terus bawa barang-barang ini ke saya?”

Raka terdiam. Ia menunduk, menatap lantai bengkel yang sudah retak di beberapa bagian, dan Sarah bisa melihat otot di rahangnya menegang seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang tidak ingin diucapkan.

“Karena,” katanya akhirnya, suaranya hampir tidak lebih keras dari bisikan,
“barang-barang ini… mereka punya cerita. Dan cerita itu… siapa lagi yang mau dengerin, kalau bukan Mbak Sarah?”

Sarah tidak menjawab. Ia hanya menatap Raka, dan untuk pertama kalinya, ia melihat anak itu bukan sebagai pembawa misteri yang mengganggu ketenangannya.

Melainkan sebagai seseorang yang, seperti dirinya, juga mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa dipahami.

Seseorang yang juga mencari jawaban di antara benda-benda rusak dan cerita-cerita yang tidak lengkap. Seseorang yang, dengan caranya sendiri, juga sedang belajar bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki.

Di luar, hujan mulai turun lagi. Butir-butir air mengetuk genteng dengan ritme yang tidak teratur, menciptakan suara yang tidak bisa diukur oleh detak jam mana pun.

Sarah mendengarkan suara itu, dan ia menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia tidak sendirian di dalam kesunyian ini. Ada seseorang lain di sini.

Seseorang yang juga membawa kenangan tentang Dimas. Seseorang yang juga menyimpan potongan-potongan masa lalu yang tidak pernah Sarah ketahui.

Dan entah kenapa, kesadaran itu tidak terasa menakutkan seperti yang ia kira. Ia terasa… melegakan. Seperti menemukan seseorang yang berbicara dalam bahasa yang sama di tengah keramaian yang tidak pernah mengerti.

Sarah menatap burung kayu itu lagi. Sayapnya yang patah. Nama yang terukir di bagian bawahnya. Ari. Seorang anak yang tidak pernah ia kenal.

Seorang anak yang mungkin sekarang sudah dewasa, mungkin sudah melupakan mainan ini, mungkin sudah tidak ingat lagi tentang mahasiswa dengan jaket denim yang pernah duduk di samping ranjangnya dan mengajarinya cara membuat burung dari kayu.

Tapi mainan ini masih ada. Mainan ini selamat. Mainan ini menjadi bukti bahwa kebaikan Dimas tidak hilang begitu saja, melainkan terus hidup di tangan orang-orang yang pernah ia bantu.

Dan mungkin, pikir Sarah, itulah warisan yang sebenarnya. Bukan kamar yang dipertahankan. Bukan barang-barang yang disimpan. Bukan jam saku yang tidak pernah diperbaiki.

Melainkan jejak-jejak kecil seperti ini – goresan nama di atas kayu, mainan yang diberikan kepada anak yang sakit, radio tua yang diperbaiki di tengah hujan – yang terus hidup bahkan setelah orang yang membuatnya sudah lama tiada.

Ia mengulurkan tangan dan mengambil obeng kecil dari kotak perkakasnya. Bukan untuk memperbaiki burung itu. Bukan untuk mengembalikan sayapnya ke tempat semula.

Melainkan hanya untuk memegang sesuatu yang padat dan nyata, sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengukur jarak antara dirinya yang dulu dan dirinya yang sekarang.

“Saya akan simpan ini dulu,” katanya, dan suaranya sekarang lebih tenang.
“Bukan untuk diperbaiki. Tapi untuk… dipelajari.”

Raka mengangguk. Ia tidak tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah – semacam keringanan yang tidak terucapkan.

Seolah-olah ia telah menyerahkan beban yang selama ini ia bawa sendirian dan sekarang beban itu telah menemukan tempatnya yang semestinya.

Di luar, hujan terus turun. Jam-jam di dinding terus berdetak. Dan di atas meja kerja Sarah, seekor burung kayu dengan sayap patah berbaring diam, menyimpan di dalam kayunya sebuah nama yang tidak pernah dikenal Sarah.

Sebuah cerita yang tidak pernah diceritakan Dimas, dan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab.

Ada berapa banyak lagi potongan hidup adiknya yang masih tersembunyi di luar sana, menunggu untuk ditemukan oleh seseorang yang cukup peduli untuk mencarinya?

Latest Novel ionicons-v5-c