“Aku baru aja dapet tawaran promosi,” kata Damar tiba-tiba.
Sari mengernyit. “Promosi?”
“Posisi baru. Lebih tinggi. Tapi konsekuensinya aku harus lebih sering travelling. Lebih banyak meeting di luar kota. Jam kerjanya…” Ia berhenti sejenak.
“Jam kerjanya lebih panjang dari sekarang.”
Sari merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan karena promosi itu sendiri, melainkan karena cara Damar mengatakannya.
Seperti seseorang yang sedang mempresentasikan proposal bisnis dan berharap kliennya melihat sisi positif dari angka-angka yang tertera.
Seperti seseorang yang mengira bahwa menawarkan masa depan yang lebih mapan bisa menutupi fakta bahwa masa kini mereka sedang retak.
“Dan kamu mau ambil itu,” kata Sari. Bukan pertanyaan.
“Ini kesempatan besar, Alina. Buat karierku. Buat…” Ia berhenti, dan Sari tahu kata berikutnya yang hampir keluar. Buat kita. Buat masa depan kita.
Kata-kata yang selalu Damar gunakan sebagai tameng, sebagai justifikasi, sebagai cara untuk mengubah ketidakmampuannya hadir di masa kini menjadi investasi untuk sesuatu yang belum tentu ada.
“Buat masa depan kita,” Sari menyelesaikan kalimat itu untuknya.
“Itu yang mau kamu bilang, kan?” Damar tidak menjawab.
Dan Sari merasakan sesuatu yang sudah lama ia tahan akhirnya menemukan jalannya sendiri ke permukaan.
Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan.
Melainkan kelelahan yang begitu dalam, kelelahan karena terus-menerus menjadi pihak yang menunggu, yang memahami, yang menyesuaikan diri dengan ritme orang lain sementara ritmenya sendiri tidak pernah dianggap.
“Damar, dengerin aku.” Suaranya bergetar sedikit, tapi ia tidak membiarkannya pecah.
“Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini. Aku nggak bisa terus-terusan nunggu kamu selesai meeting, nunggu kamu balas chat, nunggu kamu punya waktu buat aku di sela-sela deadline kamu. Aku capek. Aku capek merasa sendiri padahal aku punya pasangan.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan padat, seperti awan yang akhirnya memutuskan untuk menurunkan hujan setelah terlalu lama menahan diri.
Sari mendengar Damar menghela napas, dan untuk pertama kalinya dalam percakapan ini, ia mendengar sesuatu yang berbeda di dalamnya.
Bukan nada profesional yang terukur. Bukan nada seseorang yang sedang mencari solusi. Melainkan nada seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia mungkin sudah kehilangan sesuatu tanpa pernah menyadarinya.
“Aku ngerti,” kata Damar. Suaranya lebih pelan sekarang.
“Aku ngerti, Alina. Dan aku minta maaf.”
Sari menutup mata. Permintaan maaf itu tulus, ia tahu. Tapi ketulusan tidak selalu cukup. Ketulusan tidak bisa menggantikan kehadiran.
Ketulusan tidak bisa mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh seseorang yang selalu setengah di sana dan setengah di tempat lain.
“Aku nggak minta kamu jawab sekarang,” kata Sari.
“Aku cuma minta kamu pikirin. Pikirin baik-baik. Karena aku nggak mau terus-terusan ngerasa diabaikan. Dan kamu… kamu juga harus jujur sama diri kamu sendiri. Apakah kamu bener-bener mau hubungan ini, atau kamu cuma mau ide tentang hubungan ini.”
Ia berhenti, membiarkan kata-kata terakhir itu menemukan tempatnya sendiri di antara mereka. Di ujung sana, Damar tidak berkata apa-apa.
Sari mendengar suara napasnya, ritmis dan berat, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
“Aku harus lanjutin kerjaan sekarang,” kata Sari akhirnya.
“Aku tunggu kabar dari kamu.”
“Alina…” Tapi Sari sudah menurunkan ponselnya.
Sari menatap layar selama beberapa detik, melihat nama Damar Pratama masih terpampang di sana, sebelum akhirnya ia menekan tombol merah dan mengakhiri panggilan. Studio kembali hening.
Cahaya di luar sudah sepenuhnya berganti menjadi biru gelap, dan lampu-lampu di dalam studio mulai membentuk bayangan-bayangan panjang di dinding bata ekspos. Sari duduk diam selama beberapa menit.
Ia tidak menangis. Ia tidak merasa lega. Ia hanya merasa kosong, sebuah kehampaan yang berbeda dari yang biasanya ia rasakan setelah pertengkaran kecil atau setelah percakapan yang tidak tuntas.
Kali ini, kehampaan itu terasa final. Seperti sebuah pintu yang baru saja tertutup, dan ia belum tahu apakah pintu itu akan terbuka lagi atau tidak.
Di atas meja, sketsa-sketsa proyek lanskapnya masih berserakan. Sari meraih salah satunya, sebuah gambar taman kota dengan jalur pejalan kaki yang melingkar seperti spiral.
Ia menatapnya lama, mencari sesuatu di dalam garis-garis itu, sesuatu yang mungkin tidak ada di sana tapi ia tetap mencari.
Lalu ia meletakkannya kembali, mengambil pensil, dan mulai menggambar lagi. Garis demi garis. Lengkung demi lengkung.
Karena inilah yang selalu ia lakukan ketika dunia di luarnya terasa tidak menentu. Ia kembali ke hal-hal yang bisa ia kontrol, ke bentuk-bentuk yang bisa ia ciptakan, ke ritme yang bisa ia tentukan sendiri.
Sementara itu, di Jakarta, Damar Pratama masih memegang ponselnya. Layar sudah kembali ke tampilan utama, wallpaper default yang tidak pernah ia ganti.
Ia duduk di sofa apartemennya, ruangan yang terasa semakin luas dan semakin kosong, dan menatap ke luar jendela.
Lampu-lampu kota berkedip di kejauhan, ribuan titik cahaya yang tidak pernah padam, tidak pernah berhenti, tidak pernah memberinya ruang untuk sekadar diam dan merasakan.
Ia memejamkan mata dan mencoba mengingat suara Sari saat ia tertawa sungguhan, tawa yang dulu pernah ia dengar di suatu sore di Bandung.
Tapi yang ia dengar sekarang hanyalah gaung dari kata-kata terakhir Sari, bergema pelan di suatu tempat di dalam dadanya, seperti pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

