Bab 7 – Pesan yang Tidak Dikirim

Tawaran itu masih menggantung. Pendanaan penuh, posisi memimpin tim pengembangan, kompensasi tiga kali lipat dari pendapatannya saat ini. Dan satu syarat yang tidak tertulis tapi jelas: ia harus pindah ke Jakarta.

Ia harus meninggalkan Surabaya. Ia harus meninggalkan semua tekstur kehidupan yang telah ia bangun selama dua puluh sembilan tahun.

Termasuk Nadine.

Bima memijat pelipisnya. Dilema ini bukan hanya tentang karier. Ini tentang siapa dirinya dan siapa yang ia inginkan. Selama bertahun-tahun ia mengira bahwa jawabannya sederhana.

Ia adalah pengusaha, ia adalah pemimpi pragmatis, ia adalah seseorang yang mengejar target dan mengukur kesuksesan dengan angka. Tapi Nadine telah mengacaukan semua itu.

Atau lebih tepatnya, kehadiran Nadine telah memaksanya untuk melihat bahwa ada bagian dari dirinya yang tidak bisa diukur dengan spreadsheet dan proyeksi pertumbuhan.

Bagian yang ingin dicintai. Bagian yang ingin mencintai. Dan sekarang ia harus memilih. Jakarta atau Surabaya. Ambisi atau hubungan.

Masa depan yang sudah terpetakan atau masa depan yang masih berupa kemungkinan-kemungkinan rapuh yang menggantung pada keberaniannya untuk mengirim satu pesan.

Ia mengambil ponsel lagi. Membuka pesan yang belum terkirim itu. Menatapnya lama.

Lalu ia mengetik sesuatu yang baru. Bukan kelanjutan dari pengakuan tadi. Bukan revisi dari paragraf yang telah ia hapus. Tapi sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang mungkin, dalam keadaan normal, akan terdengar biasa saja.

Nadine, aku ingin bicara langsung. Bukan lewat pesan. Bukan lewat layar. Apa kau bersedia?

Itu saja. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada analisis panjang tentang ketakutannya. Hanya permintaan untuk bertemu.

Hanya pengakuan bahwa medium ini, layar kaca selebar enam sentimeter ini, tidak pernah cukup untuk menampung semua yang ingin ia katakan.

Jempolnya bergerak ke tombol kirim. Berhenti di atasnya. Menggantung di sana selama tiga detik. Lima detik. Sepuluh.

Dan kemudian ia mendengar suara dari luar. Samar, teredam oleh dinding dan jendela. Suara seseorang yang sedang menyapu jalanan di bawah sana. Pukul satu lewat empat puluh menit, dan seseorang masih menyapu.

Bima tidak tahu kenapa detail itu menarik perhatiannya, tapi ia mendengarkan. Gesekan serat sapu pada aspal, ritme yang teratur, jeda setiap kali penyapu itu berhenti untuk memindahkan tumpukan sampah ke pinggir.

Suara itu membawanya kembali ke dunia. Ke kamar yang sunyi. Ke ponsel di tangannya. Ke pesan yang masih menunggu untuk dikirim.

Ia menekan tombol itu. Pesan terkirim. Dua centang biru muncul hampir seketika. Nadine masih online. Nadine membaca pesannya.

Bima menatap layar itu, menunggu balasan yang mungkin tidak akan pernah datang. Detik-detik berlalu. Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Tidak ada balasan. Tidak ada centang yang berubah warna.

Hanya keheningan digital yang menggantung di antara mereka berdua, sama persis seperti keheningan yang selalu ada setiap kali mereka duduk berhadapan dan tidak mengatakan apa yang sebenarnya perlu dikatakan.

Ia tidak tahu apakah pesan itu akan dijawab. Ia tidak tahu apakah Nadine masih ingin mendengarnya. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bima Aditya telah mengirim sesuatu yang jujur.

Bukan pengakuan penuh. Bukan deklarasi cinta yang dramatis. Hanya permintaan untuk bicara. Hanya pengakuan bahwa layar tidak pernah cukup.

Dan itu, untuk sekarang, sudah lebih dari apa pun yang pernah ia beranikan sebelumnya.

Di luar jendela, suara sapu itu terus bergerak. Ritme yang teratur. Gesekan pada aspal. Seseorang yang membersihkan jalanan di tengah malam, menyapkan kota untuk hari yang baru.

Bima mendengarkan suara itu sampai akhirnya memudar, menjauh, menghilang di antra blok-blok apartemen yang sunyi. Lalu ia meletakkan ponselnya di atas meja, mematikan layarnya, dan membiarkan kamar itu kembali gelap.

Latest Novel ionicons-v5-c