Bab 8 – Menunda Keberangkatan

Anting-anting kayu kecil yang selalu ia kenakan. Ia sedang memegang ponselnya, seolah baru saja membaca sesuatu, seolah sedang menimbang-nimbang apakah akan membalas atau tidak. Ia belum melihat Bima.

Bima menghentikan motornya di tepi jalan. Jantunganya berdetak lebih kencang sekarang, tapi bukan karena takut. Ia turun, melepas helmnya, dan berjalan mendekati Nadine dengan surat di tangan.

Kertas HVS putih yang sedikit kusut di sudutnya, dilipat miring, berisi semua kata yang tidak pernah ia ucapkan.

Nadine mendongak. Matanya bertemu dengan mata Bima, dan untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Bima menyerahkan surat itu.

Jemarinya sedikit gemetar saat ia menyodorkan kertas tersebut ke tangan Nadine. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada pengantar. Tidak ada penjelasan panjang.

Hanya surat itu, terlipat di antara mereka berdua, dan seluruh kota Surabaya yang tiba-tiba terasa sunyi.

Nadine menerimanya. Ia menatap Bima sejenak – lama, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya yang tidak bisa ia temukan di atas kertas. Lalu ia membuka lipatan itu.

Matanya bergerak mengikuti baris-baris tulisan tangan Bima yang sedikit miring, tinta hitam yang mulai menipis di beberapa bagian. Ia membaca. Dan membaca. Dan membaca.

Bima hanya berdiri di sana, menunggu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apakah surat ini akan memperbaiki semuanya atau justru menghancurkan apa yang tersisa.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak lagi bersembunyi di balik layar. Ia tidak lagi mengetik lalu menghapus. Ia berdiri di sini, di hadapan Nadine, dengan semua kata-katanya yang sudah tidak bisa ditarik kembali.

Angin pagi bertiup pelan, membawa serta suara klakson dari kejauhan. Di atas mereka, awan-awan mulai menipis, memberi jalan pada sinar matahari yang lebih terang.

Dan di sudut jalan itu, di depan toko buku bekas yang sudah tutup, Nadine selesai membaca.

Ia menatap Bima. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Tidak dulu. Ia melipat kembali surat itu – kali ini lebih rapi, lebih hati-hati, seolah kertas itu adalah sesuatu yang berharga.

Lalu ia menyelipkannya ke dalam saku kemejanya sendiri, tepat di atas dadanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam di taman itu, sejak semua kata yang tidak terucapkan menggantung di antara mereka, Nadine tersenyum. Senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata.

Senyum yang Bima kenali. Senyum yang selalu ia tunggu.

“Ayo,” kata Nadine, suaranya hampir tidak terdengar di tengah bisingnya jalan raya.
“Kita perlu bicara.”

Selanjutnya:
Bab 9 – Ayo

Latest Novel ionicons-v5-c