Bab 9 – Kotak Musik yang Patah

“Aku akan melihatnya,” kata Sarah.
“Aku tidak janji bisa memperbaikinya. Tapi aku akan melihatnya.”

Ia mengucapkan kata-kata itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya ketika berbicara tentang benda-benda yang rusak.

Selama ini, setiap kali ia mengatakan
“aku akan melihatnya,” yang ia maksud sebenarnya adalah
“aku akan memperbaikinya.”

Setiap kali ia menerima benda rusak dari pelanggan, tujuannya selalu sama: mengembalikan benda itu ke keadaan semula. Membuatnya berfungsi kembali. Membuatnya utuh kembali.

Namun kali ini, ketika ia mengatakan
“aku akan melihatnya,” ia tidak merasakan dorongan yang sama. Ia tidak merasakan kebutuhan yang sama. Ia hanya ingin melihat. Hanya ingin mengamati. Hanya ingin memahami.

Dan mungkin, untuk benda ini, untuk kotak musik tua yang pernah diperbaiki oleh Dimas untuk seorang nenek yang ingin mendengar suara anaknya lagi, memahami sudah cukup. Mungkin memahami adalah satu-satunya perbaikan yang dibutuhkan.

Ia menutup tutup kotak musik itu pelan-pelan. Dan saat ia melakukannya, saat tangannya bergerak untuk meletakkan kotak itu di sisi meja, sikunya menyenggol sesuatu.

Sebuah jam meja tua yang tergeletak di sudut meja kerja. Jam meja yang sudah lama tidak disentuh.

Jam meja yang dulu pernah diperbaiki oleh Dimas, bertahun-tahun lalu, ketika ia masih hidup, ketika ia masih duduk di bengkel ini dengan tangan penuh oli dan senyum yang tidak pernah bisa diartikan.

Jam meja itu terjatuh. Tidak keras. Hanya terguling ke samping. Dan ketika ia terguling, bagian belakangnya terbuka.

Penutup belakang yang selama ini terkunci rapat tiba-tiba terlepas, mungkin karena engselnya sudah aus, mungkin karena sekrupnya sudah longgar, mungkin karena waktu telah menggerogoti setiap bagian dari benda itu.

Dan di dalamnya, di balik penutup yang terbuka, terselip sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah amplop.

Amplop kecil. Amplop putih yang sudah menguning dimakan usia. Amplop yang dilipat rapi dan diselipkan di antara roda gigi dan pegas dan komponen-komponen kecil yang membentuk jantung sebuah jam meja.

Amplop yang telah tersembunyi di sana selama delapan tahun, menunggu untuk ditemukan, menunggu untuk dibuka, menunggu untuk dibaca.

Sarah menatap amplop itu. Tangannya berhenti di udara. Jantungnya berdetak lebih cepat, lebih keras, lebih tidak teratur.

Dan di sekelilingnya, tiga puluh dua jam dinding terus berdetak, namun suara itu kini terdengar jauh, terdengar seperti berasal dari dunia lain.

Terdengar seperti latar belakang yang tidak lagi relevan dengan apa yang sedang terjadi di sini, di meja kerja ini, di antara jari-jari Sarah yang gemetar dan sebuah amplop yang telah menunggu selama delapan tahun untuk ditemukan.

Ia mengambil amplop itu. Pelan. Hati-hati. Seolah amplop itu bisa hancur jika ia menyentuhnya terlalu kasar. Seolah amplop itu bisa menghilang jika ia bernapas terlalu cepat.

Ia memegangnya di tangannya, merasakan beratnya yang hampir tidak ada, merasakan tekstur kertasnya yang rapuh.

Dan ia tahu, bahkan sebelum ia membukanya, bahkan sebelum ia membaca tulisan di dalamnya, bahwa amplop ini berasal dari Dimas. Bahwa amplop ini adalah pesan terakhir yang ditinggalkan oleh adiknya.

Bahwa amplop ini adalah sesuatu yang selama ini tersembunyi, bukan karena Dimas ingin menyembunyikannya, melainkan karena Sarah tidak pernah cukup berani untuk mencarinya.

Di sudut amplop, tertulis satu kata. Satu kata yang ditulis dengan tinta biru yang sudah memudar. Satu kata yang ditulis dengan tulisan tangan yang dikenali Sarah bahkan tanpa perlu membacanya dua kali.

Sarah.

Nadinya sendiri. Namanya sendiri. Ditulis oleh tangan adiknya. Tangan yang sudah delapan tahun tidak lagi bergerak. Tangan yang sudah delapan tahun tidak lagi menulis.

Tangan yang sudah delapan tahun tidak lagi memperbaiki apa pun. Namun di sini, di dalam amplop kecil yang terselip di balik penutup jam meja tua, tulisan itu masih ada. Masih bertahan. Masih menunggu.

Dan Sarah Wulandari, yang telah menghabiskan delapan tahun mencoba memperbaiki segalanya, yang telah menghabiskan delapan tahun mencoba mempertahankan segalanya, yang telah menghabiskan delapan tahun hidup di dalam duka yang tidak pernah ia izinkan untuk sembuh, akhirnya membuka amplop itu dengan jari-jari yang gemetar.

Akhirnya menarik secarik kertas dari dalamnya. Akhirnya membaca tulisan tangan adiknya, tulisan yang telah menunggu selama delapan tahun untuk ditemukan, tulisan yang akan mengubah segalanya.

Latest Novel ionicons-v5-c