Bab 9 – Kotak Musik yang Patah

“Ceritakan,” kata Sarah. Suaranya lebih tegas sekarang. Lebih menuntut.
“Ceritakan apa yang nenek itu katakan padamu.”

Raka menarik napas panjang. Ia menatap kotak musik itu, lalu menatap Sarah, lalu menatap kotak musik itu lagi.

Dan ketika ia mulai berbicara, suaranya tetap pelan, tetap hati-hati, namun ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang terdengar seperti keyakinan. Sesuatu yang terdengar seperti kebenaran yang tidak bisa disangkal.

“Nenek itu punya seorang anak, Kak,” kata Raka.

“Anak perempuan. Meninggal waktu masih kecil. Sakit. Nenek itu tidak pernah bisa melupakannya. Tidak pernah bisa menerima kepergiannya. Setiap malam ia duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.” Raka berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan.

“Kotak musik ini adalah satu-satunya benda yang bisa membuatnya merasa dekat dengan anaknya. Suara musiknya. Suara yang pelan dan sederhana. Suara yang mengingatkannya pada masa ketika anaknya masih hidup. Tapi kotak musik itu sudah lama rusak. Tidak bisa berputar. Tidak bisa mengeluarkan suara. Dan nenek itu tidak punya siapa-siapa untuk memperbaikinya.”

Sarah mendengarkan. Tangannya masih di atas kotak musik itu. Jari-jarinya masih menyentuh permukaan logam yang dingin. Namun di dalam dadanya, sesuatu mulai berubah.

Sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang selama ini terkunci rapat di dalam ruang yang tidak pernah ia buka.

“Lalu Dimas datang,” kata Raka.

“Entah bagaimana caranya ia tahu tentang nenek itu. Entah bagaimana caranya ia menemukan rumahnya. Tapi ia datang. Ia duduk di lantai rumah nenek itu. Ia membongkar kotak musik ini dengan obeng kecil yang selalu ia simpan di saku jaketnya. Dan ia memperbaikinya.” Raka menatap Sarah, matanya lurus, suaranya mantap.

“Dimas memperbaiki kotak musik itu, Kak. Bukan karena ia dibayar. Bukan karena ia diminta. Tapi karena ia tahu apa rasanya kehilangan seseorang. Karena ia tahu apa rasanya menyimpan kenangan tentang seseorang yang sudah pergi. Dan karena ia percaya bahwa suara musik itu bisa membuat seorang nenek tua merasa sedikit lebih ringan, sedikit lebih damai, sedikit lebih bisa melanjutkan hidup.”

Kalimat terakhir itu mengenai Sarah seperti pukulan yang tidak ia lihat datang. Bukan karena kasar. Bukan karena keras. Melainkan karena tepat. Karena akurat.

Karena menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia kira sudah mati, namun ternyata hanya tertidur.

Dimas percaya bahwa suara musik itu bisa membuat seorang nenek tua merasa sedikit lebih bisa melanjutkan hidup.

Dan Sarah, kakaknya, yang telah menghabiskan delapan tahun mencoba memperbaiki jam sakunya yang rusak, tidak pernah benar-benar belajar untuk melanjutkan hidupnya sendiri.

Ia menatap kotak musik itu. Menatap logamnya yang kusam. Menatap ukirannya yang pudar. Menatap engselnya yang berkarat. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat sebuah benda tua yang rusak.

Ia melihat sebuah pelajaran. Sebuah pesan. Sebuah warisan yang ditinggalkan oleh adiknya bukan dalam bentuk kata-kata atau surat atau permintaan, melainkan dalam bentuk tindakan.

Dalam bentuk kebaikan yang diam-diam. Dalam bentuk cinta yang tidak pernah meminta untuk diakui.

“Nenek itu masih menyimpan kotak musik ini?” tanya Sarah, suaranya sedikit serak.

Raka menggeleng.
“Tidak lagi, Kak. Nenek itu sudah meninggal. Beberapa tahun yang lalu. Tetangganya yang membersihkan rumahnya menemukan kotak musik ini di antara barang-barang yang ditinggalkan. Mereka tidak tahu harus diapakan. Mereka hampir membuangnya.” Ia berhenti sejenak.

“Tapi saya tidak bisa membiarkan itu terjadi. Saya tidak bisa membiarkan sesuatu yang pernah diperbaiki oleh Dimas berakhir di tempat sampah.”

Sarah mengangguk pelan. Ia mengerti. Ia mengerti lebih dari yang bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia juga telah menghabiskan delapan tahun tidak bisa membiarkan sesuatu yang pernah dimiliki Dimas berakhir di tempat lain.

Ia juga telah menghabiskan delapan tahun mempertahankan setiap benda, setiap kenangan, setiap jejak keberadaan adiknya.

Namun mendengar Raka mengatakan kata-kata itu, mendengar seorang remaja yang bahkan tidak pernah benar-benar mengenal Dimas berbicara tentang tidak bisa membiarkan sesuatu yang pernah diperbaiki oleh adiknya berakhir di tempat sampah.

Sarah merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang aneh dan asing dan sekaligus menghangatkan.

Ia tidak sendirian.

Selama delapan tahun, ia mengira bahwa ia adalah satu-satunya orang yang masih menyimpan kenangan tentang Dimas. Satu-satunya orang yang masih peduli.

Satu-satunya orang yang masih mencoba mempertahankan apa yang telah hilang. Namun kini, di hadapannya, berdiri seorang remaja kurus berjaket tipis usang yang juga menyimpan kenangan tentang adiknya.

Yang juga peduli. Yang juga mencoba mempertahankan. Dan entah bagaimana, kesadaran itu membuat beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Bukan karena beban itu menghilang. Bukan karena beban itu tiba-tiba tidak lagi ada. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak harus memikul beban itu sendirian.

“Terima kasih,” kata Sarah pelan.
“Sudah membawanya ke sini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Hanya tersenyum samar. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, namun juga tidak sepenuhnya sedih.

Senyum yang mengatakan lebih banyak daripada kata-kata. Senyum yang membuat Sarah bertanya-tanya apa lagi yang disimpan oleh remaja ini di balik wajahnya yang tenang dan suaranya yang pelan.

Sarah menarik napas panjang, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke kotak musik itu.

Ia membuka tutupnya pelan-pelan, merasakan engsel yang berkarat itu mengerik, mendengarkan suara logam yang bergesekan dengan logam. Di dalamnya, sebuah silinder kecil berhenti di tengah putaran.

Sebuah sisir logam dengan gigi-gigi yang sudah aus. Sebuah mekanisme yang dulu mungkin bisa menghasilkan melodi sederhana, namun kini hanya bisa diam.

Hanya bisa membisu. Hanya bisa menyimpan suara yang tidak lagi bisa terdengar.

Latest Novel ionicons-v5-c